Rabu, 12 September 2007

Memoar Ramadhan di Kampung

BEBERAPA hari lagi kemungkinan puasa ramadhan akan di mulai. Dulu, sehari menjelang puasa Ramadhan adalah masa-masa yang sangat menyenangkan. Senang karena menjelang puasa banyak makanan terhidang. Dan di akhir puasa, Idul Fitri datang dengan segala keriangannya.

Waktu kanak-kanak dulu, menjelang puasa begini ada ”ritual” khusus yang dilakukan anak-anak di kampung kami, mandi sepuas-puasnya di sungai yang membelah kampung dengan air pegunungan yang segar, deras mengalir dan jernihnya masih seperti embun pagi. Anak-anak mandi beramai-ramai, kosokan dan bolotan menghilangkan daki, membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di badan dengan batu apung. Ini katanya untuk mengimbangi “pembersihan” jiwa melalui puasa di bulan Ramadhan yang akan kami jalani.

Sudah menjadi semacam tradisi, sebelum puasa dan juga nanti menjelang lebaran, orang-orang di kampung kami melaksanakan ziarah kubur sekaligus membersihkan makam para leluhur, menabur bunga dan berdoa di atas pusara para leluhurnya. Entah, apakah ini sebuah upaya untuk selalu mengingat kematian dan atau mungkin menghindar dari keruwetan hidup, yang kian hari kian bertambah berat saja. Yang jelas, dalam agama juga dianjurkan berziarah untuk mengingat mati. Dengan mengingat mati, hidup tak akan sewenang-wenang dan seenaknya. Kematian adalah nasihat hidup yang baik. Sementara berziarah atau ke makam hanya untuk menghindar dari keruwetan hidup karena banyak hal yang melatarbelakanginya. Bisa jadi karena mereka sudah bekali-kali “berziarah” ke istana pemimpin-pemimpinnya dan atau ke wakil-wakilnya tetapi tak digubris. Mereka kecewa, mereka merana, mereka bingung, dan kuburanlah alternatifnya. Bisa jadi!

Sehari sebelum puasa orang-orang di kampung kami juga melakukan selamatan sebagai salah satu rangkaian dari acara menyambut bulan Ramadhan atau kalau di kampung kami disebut dengan megengan. Salah satu ritualnya adalah membuat nasi tumpeng dengan berbagai uba rampe lalu dimakan bersama-sama dengan tetangga sekitar atau yang disebut kenduri. Saya sudah cukup lama tidak melihat atau menikmati puasa pertama di kampung halaman, sepertinya sudah hampir belasan tahun.

Kala itu, kenduri dilakukan secara bergilir dari rumah ke rumah. Dalam kenduri tak ada pembedaan status, kaya-miskin ataupun kedudukan. Lama-lama cara ini dianggap tak efektif dan pemborosan karena nasi tumpeng yang dibuat harus besar untuk mencukupi blok rumah tangga (tetangga 1 blok terdekat ada sekitar 15 kepala rumah tangga). Jadi kalau tumpeng-nya dibuat dengan ukuran minimalize jelas tidak cukup untuk seluruh tetangga. Demikian juga, karena bergiliran dari rumah ke rumah, terkadang selesai sampai malam hari. Bila hujan ini sangat merepotkan, jalanan ke rumah tetangga terdekat becek dan licin, apalagi tahun 1980-1990 kampung kami belum ada penerangan dari PLN, cukup lampu teplok, petromaks, ada yang pakai generator diesel, ada pula yang memakai tenaga air (microhydro), ini yang paling banyak dikembangkan tapi aliran listriknya sering tak stabil.

Beberapa tahun yang lalu, kebiasaan kenduri seperti itu mulai diubah. Setiap kepala rumah tangga membuat nasi tumpeng tak perlu besar, secukupnya saja ukurannya, besar juga tak masalah sebenarnya, yang penting enak dan ikhlas. Kemudian tumpeng dikumpulkan disalah satu rumah. Setelah terkumpul semua, baru dilakukan kenduri secara bersama-sama yang tentunya sebelum acara makan-makan dilakukan doa bersama dan sedikit siraman rohani dari tetua kampung.

Dulu, simbok saya tiap menjelang puasa dan apalagi menjelang akhir bulan puasa waktu malam-malam ganjil atau maleman biasanya membuat aneka makanan untuk diberikan kepada tetangga-tetangga dan orang-orang yang lebih tua atau yang dituakan. Waktu itu saya sering disuruh untuk ater-ater (mengantar) makanan. Ini yang membuat hati senang bukan kepalang, setiap mengantar pasti saya mendapat imbalan atau semacam ”angpao” dari tetangga yang menerima makanan. Katanya buat sangu (uang saku) ketika lebaran nanti. Mungkin itu sebagai upaya menggembirakan anak-anak kecil menjelang hari raya Iidul Fitri.

Ketika itu saya tak paham apa makna di balik itu semua. Tapi sekarang baru saya mengerti bahwa semua itu dilakukan orang-orang di kampung, semacam kenduri dan antar-antar makanan, karena dalam Islam mengajarkan demikian, silahturahim dan saling menolong, apalagi di bulan Ramadhan, meskipun kami melakukan dengan cara-cara demikian.

Memang terlalu sederhana menerjemahkan nilai silahturahim dan nilai-nilai islam lainnya dengan hanya tumpengan dan makanan. Tetapi itulah yang kami lakukan, beragama dengan cara yang sangat sederhana, beragama yang menggembirakan tetangga saja sebab kami tak biasa dan tak bisa beragama dengan cara hanya meratakan dahi ke lantai masjid hingga menghitam, sementara tetangga kanan-kiri meraung-raung, melilit-lilit perutnya terlipat-lipat!

Marhaban ya Ramadhan!

1 komentar:

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...