Selasa, 27 Mei 2008

Dari Ladang Memandang Jombang

DALAM ensiklopedia wikipedia disebutkan bahwa pertanian masih menjadi primadona masyarakat Jombang, dimana sektor ini menyumbang 38,16 persen total PDRB kabupaten. Meski nilai produksi pertanian mengalami peningkatan, namun kontribusi sektor ini mengalami penurunan. Sektor pertanian digeluti oleh sedikitnya 31 persen penduduk usia kerja di Jombang.

Selain itu, dengan tradisi yang telah berakar kuat dan kemudahan yang disediakan oleh alam serta inovasi-inovasi yang terus-menerus menjadikan pertanian dapat berkembang pesat. Kesuburan tanah di Jombang konon dipengaruhi oleh material letusan Gunung Kelud yang terbawa arus deras Sungai Brantas dan Sungai Konto serta sungai-sungai kecil lainnya. Sistem pengairan juga sangat ekstensif dan memadai, dan 83 persen diantaranya merupakan irigasi teknis.

Selanjutnya disebutkan juga bahwa 42 persen lahan di Jombang digunakan sebagai area persawahan. Letaknya di bagian tengah kabupaten dengan ketinggian 25-100 meter di atas permukaan laut. Lokasi ini ditanami tanaman padi serta palawija seperti jagung, kacang kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan ubi kayu. Komoditas andalan tanaman pangan Kabupaten Jombang di tingkat provinsi adalah padi, jagung, kacang kedelai dan ubi kayu. Besarnya produksi padi telah menempatkan Jombang sebagai salah satu daerah swasembada beras di provinsi Jawa Timur.

Jadi, sebenarnya Jombang juga pantas disebut sebagai kota agraris, disamping sebutan kota santri dan kota adipura yang selama ini telah melekat erat tentunya. Apalagi saat ini Jombang sedang mencari identitas sejarah kelahirannya. Mungkin karena sejarah peradaban Jombang sangat panjang dan kompleks sehingga sulit dan perlu perdebatan panjang untuk menentukan kapan sebenarnya Jombang lahir. Untuk itu, tak ada salahnya kita mencoba dari sudut lain untuk memandang Jombang yaitu salah satunya dari sudut-sudut ladang kita dapat memandang Jombang.

Sejak awal, Jombang memang tak dapat dilepaskan dari kejayaan Kerajaan Majapahit. Dan Kerajaan Majapahit, konon merupakan kerajaan yang mayoritas rakyatnya bekerja sebagai petani di daratan. Ini dimungkinkan karena Majapahit berada jauh di tengah daratan pulau Jawa, meskipun dekat sungai Brantas tetapi jauh dari pantai atau laut, tidak seperti keberadaan kerajaan-kerajaan zaman dulu yang kebanyakan berada dekat pantai.

Selanjutnya kalau kita mencermati, beberapa nama desa yang ada di Jombang selalu dikaitkan dengan tradisi pertanian sawah atau sebagai penghasil padi. Beberapa di antaranya adalah Desa Tambakberas di utara Jombang. “Tambak” mempunyai arti bendungan, atau bisa juga tempat meyimpan. Jadi Tambakberas mempunyai arti yang identik dengan melimpahnya beras.

Kemudian di tengah, Desa Sawahan yang juga identik dengan lahan untuk pertanian padi, meskipun sekarang di desa ini tak sejengkal pun ada lahan untuk persawahan karena telah berubah menjadi bagian dari wilayah kota Jombang.

Sedangkan di bagian selatan di Kecamatan Mojowarno ada nama Desa Kedungpari yang identik juga dengan keberlimpahan pertanian padi. “Kedung” dapat diartikan kolam, genangan, kantong, pusat atau sentra. Sedangkan “pari” dari bahasa Jawa yang artinya adalah padi. Jadi Kedungpari dapat diartikan sebagai daerah sentra padi.

Belum lagi nama-nama desa yang berawalan “banjar”, seperti Banjardowo, Banjargebang, Banjaragung dan lain-lain. Kata “banjar” ada yang mengartikan sebagai ”baris”, ada juga yang mengartikan sawah, karena di sawah tanaman padi terhampar berbaris-baris. Dengan demikian, sebenarnya Jombang juga sangat layak mempunyai predikat Kota Padi atau Kota Sawah.

Pun demikian, nama Pulau Jawa dimana Jombang merupakan wilayah bagiannya, berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Javadwipa, yang artinya padi. Karena berkat lahan yang subur akibat pengaruh gunung berapi, pertanian di pulau ini dapat berkembang dengan pesat dan menjadikan pulau Jawa dulu sebagai pulau yang surplus padi.

Mungkin hal tersebut masih terlalu jauh dari konstruksi metode ilmiah. Tetapi minimal hal ini bisa menjadi wacana dan merangsang para ahli sejarah Jombang untuk lebih melihat Jombang dari kesejarahan pertaniannya atau dari peradaban awal rural-nya seperti itu. Jombang masih memerlukan peran para antropolog dan sosiolog pertanian atau sosiolog pedesaan untuk menguak tabir kehidupan awalnya. Dan yang pasti, harus dimulai dari desa dan pertaniannya.

Dulu dan bahkan sekarang, pada beberapa masyarakat Jombang, tradisi atau ritual yang terkait dengan dunia pertanian sawah pun masih ada. Contoh yang sempat saya ingat dan jumpai adalah yang dilakukan oleh para petani padi. Sebelum melakukan usaha tani padi sampai masa panen, mereka melakukan ritual-ritual khusus sebagai bentuk penghormatan terhadap Dewi Sri atau Dewi Padi. Kepercayaan terhadap Dewi Sri atau Dewi Padi ini sebagian masih melekat pada masyarakat Jombang. Kita masih bisa menjumpai hal-hal seperti ini jika sempat jalan-jalan ke kawasan pertanian atau pedesaan.

Secara umum, ritual penghormatan terhadap Dewi Padi tersebut terdiri atas beberapa tahapan. Tahapan pertama adalah upacara wiwitan yang berarti ritual mulai menebar benih padi berupa ikatan-ikatan di sawah. Lalu disusul acara ndangir, yaitu membersihkan rumput sawah yang tumbuh bersamaan dengan mulai mengembangnya bibit padi. Beberapa bulan berikutnya diadakan upacara methik, yang berarti mulainya memanen padi. Dalam acara ini, biasanya petani melakukan ritual tertentu dari yang sederhana hingga yang besar-besaran. Upacara methik biasanya dipimpin oleh “orang pintar” atau tokoh spiritual dengan membawa sesajen dengan segala macam uba rampe-nya ke lokasi persawahan yang akan dipanen. Kemudian di tempat tertentu diadakan pembacaan doa-doa dan selanjutnya dilakukan pemetikan beberapa tangkai padi. Tangkai padi inilah yang melambangkan Sang Dewi Sri yang dianggap mempunyai kekuatan magis. Lalu beberapa helai tangkai padi ini disandingkan dalam sesajen, makanya sesajen kadang juga disebut sandingan. Kemudian sesajen yang sudah “bersanding” dengan Sang Dewi Padi, dibawa pulang ke rumah dengan cara di-sunggi (ditaruh di atas kepala) atau bahkan digendong untuk disimpan di bilik atau senthong.

Meskipun hal itu tak semarak seperti halnya pada masyarakat tani lainnya, semisal masyarakat tani di Jawa Tengah atau Tatar Sunda Jawa Barat, tetapi kegiatan ini masih ada meskipun dengan cara yang lebih sederhana. Hal-hal seperti inilah yang mungkin bisa menguak Jombang dari sisi lain.

Selain produk dari sawah atau padi, Jombang juga mempunyai potensi besar di sektor pertanian perkebunan. Di kawasan tenggara dan selatan potensi ini tumbuh relatif “liar” yang jika lebih di-manage tentu akan menguntungkan terutama secara ekonomi. Jombang bagian ini juga menghasilkan aneka buah-buahan, semacam pisang, salak pondoh, alpokat dan durian. Buah durian yang berasal dari kawasan pegunungan di Wonosalam cukup dikenal, dan dari mulut ke mulut para penikmat durian, durian Wonosalam mempunyai daya tarik tersendiri. Bahkan, durian Bido Wonosalam telah mendapat tempat tersendiri di lidah para pemburu dan penggemar durian. Sementara oleh pemerintah, Durian Bido Wonosalam juga telah dilepas sebagai Varietas Unggul yang ditandai dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 340/Kpts/SR.120/5/2006. Masih dari kawasan Jombang selatan, produk perkebunan selain buah-buahan adalah cengkeh, kakao dan kopi. Bahkan komoditas kopi telah dikembangkan sejak zaman Belanda di kawasan pegunungan Wonosalam.

Demikian juga, hamparan lahan tebu membentang subur sepanjang wilayah Jombang. Dari selatan ke utara dan dari timur ke barat. Di samping itu, juga didukung dengan berdirinya 2 pabrik gula, meskipun kondisinya sangat renta seperti pada umumnya pabrik-pabrik gula di daerah lain, namun masih bisa memproduksi gula dari tebu-tebu yang dihasilkan dari ladang-ladang di sekitarnya.

Sementara itu, di bagian utara Jombang yang relatif kering, misalnya Kabuh, terbentang luas ladang-ladang tembakau yang menghijau. Ladang-ladang tembakau yang hijau itu, di samping sejuk dipandang, juga bila panen bagus dan harga-harga sangat baik, hati petani akan sejuk, karena mendadak kaya. Sebaliknya, bila panen jeblok dan harga-harga anjlok, petani bisa menangis pilu berminggu-minggu. Tetapi yang jelas, secara umum ladang-ladang tembakau itu tak ubahnya tambang-tambang emas yang bisa menambah nyawa kehidupan perekonomian masyarakat Jombang.

Bila sektor pertanian maju, tak hanya petani sendiri yang diuntungkan, tetapi juga akan membuat gairah perekonomian lainnya lebih semarak. Sektor perdagangan misalnya, akan lebih dinamis, pasar-pasar akan lebih hidup, gerai atau dealer-dealer motor-mobil di kawasan pusat kota Jombang pun akan ikut “panen”. Belum lagi sektor industri baik yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan sektor pertanian akan turut pula menikmati kemajuan sektor pertanian.

Nah, oleh karena itu, tak ada salahnya mencari sudut lain untuk memandang Jombang, seperti dari ladang-ladangnya ini, siapa tahu kita bisa menemukan Jombang dengan identitas lain. Wallahualam!


*Dimuat di Harian Jawa Pos-Radar Mojokerto, Senin, 26 Mei 2008

2 komentar:

  1. Kalo dari kabuh, kampung ujung utara jombang di puncak gunung kapur mungkin hanya tembakau yg bisa menghidupi petani. Tanah keras berbatu dan kering. Sayang seringkali kebijakan pemerintah tak berpihak pada kaum petani.

    Jadilah orang-orang aseli pergi keluar daerah menjadi migran seperti saya ini he..he..

    Salam dari utara jakarta.

    BalasHapus
  2. Walau bagaimanapun buat saya Jombang tetap kota yang indah, Walau saya pendatang dari Jakarta, tapi akhirnya Tiga tahun Resmi bisa jadi orang Jombang, lam kenal wae ah... dari saya di Jombang bagian Utara (Kesamben)

    BalasHapus

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...