Jumat, 22 Juni 2007

HKP dan Adaptasi Petani

TANGGAL 21 Juni diperingati sebagai Hari Krida Pertanian atau HKP. Tahun ini adalah peringatan HKP ke-35. Peringatan HKP sendiri terkait erat dengan siklus pranata mangsa yang telah dikenal sejak abad ke-19 yang terbagi menjadi 12 musim dengan semua karakteristiknya, seperti curah hujan, arah angin, dan gangguan hama penyakit.

Dari 12 musim itu, tanggal 21 Juni merupakan awal dari musim pertama sehingga menjadi momentum penting bagi petani. Sebab, kegiatan panen berbagai komoditas pertanian dilakukan pada bulan ini. Petani biasanya juga menghitung untung-rugi usaha tani sebelumnya, mengevaluasi segala kekurangannya, dan kemudian mencari langkah-langkah yang lebih baik lagi. Sebagai tanda syukur, dulu sebagian masyarakat kita melakukannya dengan pesta panen dengan berbagai atribut dan beragam tata cara.


Dari dulu hingga sekarang, usaha pertanian memang tak bisa dilepaskan dari fenomena alam. Oleh karenanya, petani dituntut harus mampu membaca fenomena alam, seperti peredaran benda-benda langit beserta pengaruhnya terhadap kehidupan di muka Bumi. Jadi, peredaran benda-benda langit dan pergantian waktu adalah peristiwa alam yang tak boleh diabaikan begitu saja.

Zaman dulu untuk menyesuaikan kehidupannya dengan alam, para karuhun juga tak lepas dari pembacaan tanda-tanda alam. Misalnya saja, mereka menggunakan bintang sebagai sarana menentukan arah, atau bahkan sebagai tanda pergantian musim. Maka, masyarakat kita menamai beberapa rasi bintang dengan mengambil nama dari hal-hal yang terkait dengan pertanian, misalnya rasi bintang waluku (bajak), ataupun gubug penceng (saung dengan kondisi miring yang berada di tengah sawah). Dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia pun disebutkan bahwa bangsa yang sangat memerhatikan peredaran waktu adalah bangsa-bangsa yang sejak awal perkembangannya mempunyai budaya agraris. Ketika budaya agraris mulai terkikis, yang terjadi adalah ketidakseimbangan alam.

Meninggalkan budaya agraris

Namun, saat ini bukanlah perkara mudah untuk dapat membaca tanda-tanda alam, apalagi memprediksi pergantian musim. Diakui atau tidak, sedikit banyak kita telah meninggalkan budaya agraris yang dulu pernah kita banggakan. Fenomena ini bisa dilihat dari bagaimana karut-marutnya kondisi pertanian kita saat ini. Keseimbangan alam pun saat ini berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Ini tak terlepas dari perilaku kita yang tak ramah dengan alam. Hutan-hutan dibabati secara radikal, lahan-lahan pertanian beririgasi teknis diubah menjadi lahan permukiman atau industri. Akibatnya, kegiatan-kegiatan budidaya pertanian bergeser ke lahan-lahan kritis yang memerlukan input tinggi dan mahal untuk menghasilkan produk pangan.

Sementara itu, penggunaan bahan bakar fosil juga semakin meningkat dan sistem pembuangan limbah yang tak sempurna dari industri-industri ataupun pembakaran pada mesin-mesin kendaraan bermotor ditengarai telah memicu efek gas rumah kaca yang selanjutnya berdampak pada pemanasan global. Akibatnya, pola hujan dan siklus hidrologi menjadi tidak teratur dan sangat membingungkan, khususnya bagi kaum petani, serta berdampak terhadap keanekaragaman hayati yang mengalami penurunan. Sebaliknya, beberapa jenis serangga dan hama penyakit tanaman lebih cepat berkembang. Gangguan siklus alam ini tentu berdampak pada kemampuan sektor pertanian dalam menghasilkan bahan pangan bagi kehidupan manusia.

Salah satu contoh nyata dari kondisi tersebut adalah kekeringan yang terjadi tahun lalu di lahan persawahan di wilayah pantai utara sekitar Cirebon dan Indramayu, baik yang tadah hujan maupun beririgasi teknis. Ini adalah salah satu akibat dari kerusakan dan ketidakseimbangan alam seiring dengan penggundulan hutan secara radikal di daerah hulu. Akibat kekeringan ini, masa tanam padi menjadi mundur dari waktu yang biasanya dilakukan petani. Demikian juga dari Januari sampai Maret lalu, areal persawahan yang siap panen porak poranda diterjang banjir akibat hutan-hutan yang rusak dan tak mampu lagi mengontrol air hujan.

Adaptasi petani

Meskipun demikian, hal itu masih belum terlambat diantisipasi. Intinya, petani harus mampu beradaptasi menghadapi tantangan perubahan iklim sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi. Ada beberapa hal penting yang dapat dilakukan.

Pertama, petani harus mempunyai pengetahuan dan sensitivitas dalam membaca tanda-tanda alam. Ini dapat dilakukan dengan menggali pengetahuan dan atau kearifan lokal para karuhun. Selain itu, petani juga dapat mengakses langsung ke sumber informasi cuaca yang disediakan pemerintah. Oleh karena itu, peran pemerintah menyosialisasikan dan menyediakan informasi yang akurat berkaitan dengan perubahan iklim dan cuaca sangat penting. Selama ini pemanfaatan informasi semacam ini masih jarang digunakan untuk kepentingan sektor pertanian.

Kedua, setelah mampu membaca tanda-tanda alam, pola tanam harus adaptif dengan musim. Petani jangan sekali-kali melawan kondisi alam. Misalnya, menjelang musim kemarau, petani di lahan dengan irigasi nonteknis jangan memaksakan menanam padi jika dirasa akan kesulitan air. Petani dapat mengganti pola tanamnya dengan tananam yang relatif membutuhkan sedikit air serta tahan kekeringan, misalnya tanaman palawija. Ini juga untuk memutus mata rantai hama penyakit tanaman. Memang hal ini bukan perkara mudah karena terkait dengan kebiasaan dan tuntutan ekonomi petani. Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan insentif, terutama yang tarkait dengan ekonomi petani.

Ketiga, menumbuhkan dan memelihara kesadaran lingkungan hidup di kalangan petani dan masyarakat global lainnya, termasuk pengambil kebijakan. Menjaga kelestarian lingkungan hidup ini dapat kita lakukan dengan mulai menghentikan pembabatan hutan dan merehabilitasi kawasan serapan air, mengurangi pembakaran fosil yang dapat berdampak pada lapisan ozon, serta menghentikan pencemaran udara, air, dan tanah.

Dengan demikian, kita dapat mengantisipasi dan mengurangi dampak "kekacauan" kondisi alam ini. Yang terpenting, semuanya tetap berpulang pada perilaku kita terhadap alam. Pada momentum peringatan HKP kali ini, semangat HKP harus mendorong kita lebih bersabahat dengan alam agar kita bisa memahami dan beradapatsi dengan alam.


*Artikel ini telah dimuat di Harian Kompas Edisi Jawa Barat, 21 Juni 2007.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thanks for your visiting and comments!

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...