“…..sekadar catatan untuk melepas penat disela-sela mencangkul di tengah ladang sambil menikmati hembusan angin di siang hari, nyanyian burung-burung, lenguhan kerbau, hamparan langit biru, gemericik air pancuran, hijaunya dedaunan, aroma keringat, sengatan matahari, belalang-belalang yang lalu-lalang berlompatan, dan tentu saja secangkir kopi pahit dan sepotong singkong rebus…..”


Monday, September 4, 2006

Catatan Tentang Hutan Kampungku

Jombang, 31 Agustus 2006

ENTAH mengapa, tiba-tiba hari ini memoriku berkelana ke masa belasan tahun atau bahkan puluhan tahun yang lalu. Menapaktilasi tumpukan-tumpukan catatan tentang hutan di kampungku. Hutan-hutan yang menyimpan banyak kenangan sekaligus menjadi sumber inspirasi dan spirit bagiku.

Kampungku yang berada di lereng Gunung Anjasmoro dengan ketinggian di atas 500 meter sampai 1000 meter lebih dari permukaan laut, bahkan untuk puncak Gunung Anjasmoro yang tercatat di peta-peta ataupun ilmu bumi mencapai ketinggian 2077 meter dari permukaan laut, masih dikelilingi dengan pepohonan yang kokoh, lebatnya hutan dengan aneka tanamannya, juga airnya masih jernih mengalir di kaki-kaki perbukitannya.

Suasana rindang dan sejuk pun masih terasa saat itu. Udara begitu bersih dan segar yang tentu saja menyegarkan dan menyehatkan. Tiap pagi pun kabut seolah datang dari langit langsung menyapa, menyapu dan menyaput pucuk-pucuk pepohonan, meskipun di bulan Agustus di mana musim kemarau sedang ganas-ganasnya, sedang panas-panasnya. Ini menandakan bahwa hutan-hutan di kampungku juga kampung lainnya masih terjaga kelestariannya.

Satwaku yang merdeka


Setiap saat burung-burung dengan berbagai jenisnya masih bebas berkicau tanpa rasa takut akan ancaman senapan, lem jebakan ataupun jaring-jaring tangkapan. Berseliweran terbang menyapa dan meramaikan kampungku dengan nyanyian merdunya, membawa kedamaian dan kabar kebahagiaan. Burung-bunrung berlompatan dari dahan ke dahan, dari pohon ke pohon, dari satu bukit ke bukit lainnya dengan gerakan-gerakan yang lincah dan indah. Menyingkap kabut pagi, membuka mata yang melihatnya. Betapa indahnya alam ini ketika kita mendengar suara burung berkicau.

Ketika aku bangun di pagi hari yang terdengar adalah “dzikir” merdu berbagai jenis burung yang sangat ramai, begitupun menjelang matahari terbenam, suara burung ramai memanggil teman-temannya untuk pulang. Tuhan, betapa agungnya Engkau menciptakan segala keindahan alam semesta ini. Sungguh sangat kufur kalau aku tak mensyukuri atas segala nikmat ini.

Juga tak ketinggalan burung-burung hantu yang seringkali pada malam hari kudengar suaranya yang menakutkanku ketika aku masih kanak-kanak, berterbangan di kebun-kebun dan sawah-sawah. Kata orang-orang mereka sedang mencari tikus-tikus liar, sebagai santapan favoritnya.

Oh ya, tikus-tikus itu kalau tidak ada pemangsanya akan cepat beranak-pinak dan menjadi hama yang menghantui para petani karena akan menyerang tanaman di lahan-lahan pertanian. Serangan tikus-tikus sangat meresahkan petani karena dalam semalam saja dapat meludeskan semua tanaman. Tentu saja serangan tikus-tikus menjadi kekhawatiran tersendiri mengingat akan berakibat menurunnya produksi pertanian. Ah, lagi-lagi ini seperti pelajaran IPA yang kuperoleh ketika di bangku sekolah dasar. Sebuah penjagaan keseimbangan ekosistem, dimana tikus-tikus yang menjadi hama bagi manusia jumlahnya akan tetap terkendali dengan adanya keberadaan burung-burung hantu.

Kemudian juga, sesekali kijang atau orang kampungku biasanya menyebut kidang masih sering kutemui jalan-jalan ke kebun cengkih, ladang-ladang singkong dan jagung, juga ke pekarangan-pekarangan penduduk. Itu terjadi ketika sebelum tahun 90-an. Aku masih duduk di bangku sekolah dasar.

Aku jadi teringat kata-kata ibu-bapakku, juga mbah putriku kalau kakekku dari pihak ibuku yang menjadi mantri hutan kala itu, meninggal dunia dalam usia sangat muda setelah menembak kijang di kawasan trianggulasi. Trianggulasi adalah kawasan atau tempat yang dijadikan patokan ketika mengukur ketinggian permukaan bumi dari permukaan laut.

Tetapi aku tak percaya dengan cerita ini. Aku yakin kematian Kakekku ini bukan karena tempat trianggulasi wingit atau angker, juga bukan karena kijang yang ditembak adalah kijang jelmaan, kijang jadi-jadian atau kidang daden-daden kata orang di kampungku, tetapi kematiannya memang sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Esa. Dan kemungkinan secara medis, Kakekku sudah menderita penyakit jantung, sehingga ketika menembak lalu kaget dengan suara senapan sehingga menimbulkan kejut bagi jantungnya. Ini hanya pradugaku saat ini. Ya, wajah Kakekku saja aku tak tahu, karena kejadian ini terjadi di tahun 1970an, kakekku meninggal dalam usia yang masih sangat muda dengan sembilan anak-anaknya yang juga masih kecil. Bahkan bapakku sendiri belum menikah dengan ibuku ketika itu. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya nenekku mengasuh 9 anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Kembali ke soal kijang yang sering muncul ke kebun, ladang dan perkampunganku. Seringkali orang-orang menangkapnya, kadang untuk dipelihara atau dilepas kembali jika kijang yang didapati dalam keadaan bunting. Namun jika tidak bunting tak jarang kijang-kijang itu disembelih untuk dijadikan lauk. Mereka tak perlu kuatir kijang-kijang ini akan habis, toh hutan-hutan tempat kijang berlindung dan beranak-pinak tetap terjaga kelestariannya. Apalagi penduduk di kampungku dengan tidak sengaja berburu dan membunuhnya, mereka hanya menangkap kijang-kijang yang tersesat saja ke kampung-kampung, jadi mereka menganggap ini anugerah lain dari Tuhan, itu pun diseleksi dulu mana yang layak disembelih.

Di samping kijang juga seringkali muncul celeng atau babi hutan bahkan sering merusak umbi-umbian yang ditanam penduduk. Dulu ada tetanggaku yang suka membuat jebakan babi hutan dengan membuat “lubang maut” di kebun dekat hutan yang seringkali dilewati babi hutan. Lubang-lubang maut dibuat dengan panjang-lebar kurang dari satu meter dan kedalaman lebih dari satu meter. Pada dasar lubang biasanya diberi benda-benda tajam semacam bambu runcing. Namun seringkali diberi tali baja, karena kalau benda-benda tajam akan langsung melukai dan membunuh babi hutan. Biasanya tali baja yang dipakai dari bekas string kopling motor yang diikat sedemikian rupa. Kemudian bagian atas lubang dipasang daun-daunan ataupun rerumputan untuk menyamarkan lubang maut. Nah, ketika babi-babi hutan ini melewati bagian atasnya maka akan terperosok ke dalam lubang dan tentu saja akan terjerat oleh tali atau string baja. Jika babi-babi hutan ini berontak, sudah barang tentu ikatan tali akan semakin kuat mengikatnya karena model ikatannya sudah dirancang sedemikian rupa.

Bunga anggrek


Bunga anggrek liar pun masih mudah kutemukan di hutan jati dan pinus yang berada paling dekat dengan kampungku. Juga tanaman sejenis paku-pakuan semacam tanduk kijang atau tanduk rusa menjuntai indah dan rimbun di dahan-dahan pepohonan besar.

Pada hari minggu atau liburan sekolah aku seringkali mencarinya ke dalam hutan ramai-ramai dengan teman-temanku untuk kubuat hiasan atau kutanam di rumah. Kala mencari ke dalam hutan adalah suatu hal yang sangat mengasyikan. Tetapi kadang aku merasa takut masuk hutan meskipun beramai-ramai. Hal yang membuatku takut adalah ketemu binatang buas dan atau tersesat tak tahu arah jalan keluar.

Aku sering mendengar cerita-cerita masyarakat kampungku bahwa jika berjalan di hutan melangkahi akar pepohonan yang berbelit saling terkait antara akar pohon satu dengan yang lainnya –jumlah pohon yang akarnya saling terkait mencapai 7 pohon dan aku lupa istilahnya— akan kebingungan, tak tahu jalan keluar. Bahkan bisa jadi akan bermalam di dalam hutan. Aku tak tahu mengapa ini bisa terjadi. Tetapi orang di kampungku terlanjur mempercayai hal itu sebagai sesuatu yang angker, wingit, ada ‘penunggunya’. Ketika itu, karena aku masih anak-anak, aku juga mempercayainya begitu saja. Namun saat ini aku berpikir, orang kampungku tidak salah memang, kalau orang menginjak melangkahi akar tersebut akan tersesat. Tetapi aku yakin bukan karena keangkeran dari pohon itu. Menurutku lebih pada keanehan atau bahkan keindahan bentuk akar yang jarang mereka lihat. Jadi secara psikologis mereka merasa takjub, terpesona, nggumun, hingga sampai lupa kalau sedang berada di tengah hutan belantara, akibatnya bisa saja akan melupakan jalan atau jalur-jalur keluar hutan. Tersesat jadinya!

Oh ya, dari hutan ini aku juga bisa belajar banyak. Seringkali aku membanding-bandingkan dengan keterangan guru-guru IPA-ku dan juga gambar-gambar tetumbuhan semacam tanduk rusa yang ada di buku-buku pelajaran. Mirip benar gambarnya dengan tanaman aslinya. Spesifikasinya juga tak jauh beda dengan apa yang kupelajari di sekolah. Sambil menyelam minum air, peribahasanya. Sambil masuk hutan, jalan-jalan, rekreasi, juga sambil belajar memahami alam.

Kemudian di tepi hutanku juga banyak ditumbuhi berbagai tanaman perdu, secang, mahoni (yang bunga mudanya jika jatuh sering kubuat gasing), juga jarak pagar meskipun tidak banyak. Aku seringkali memanfaakan getah dari pohon jarak ini sebagai mainan gelembung. Aku petik tangkai daunnya, dari bekas patahan ini akan meneteskan getah. Getah jarak ini lalu kutampung di atas daun jarak. Setelah terkumpul cukup banyak, aku membuat semacam lingkaran kecil dari tangkai bunga rerumputan. Cara memainkannya lingkaran dari tangkai bunga rumput itu kucelupkan ke dalam cairan getah jarak, lalu kutiup dan keluarlah gelembung-gelembung yang cantik berterbangan di udara. Oh ya, kadang karena terlalu pekat getahnya, untuk mengencerkannya aku tidak memakai air. Air ludah adalah bahan pengencer “terbaik” waktu itu. Air ludah kupakai untuk mengencerkan kepekatan getah jarak. Menjijikan memang, tapi bagiku pada masa kanak-kanak tak ada yang membuatku jijik. Justru yang membuat jijik kala dewasa ini, jijik melihat ha-hal yang meresahkan manusia dan kemanusiaannya. Kayak penjajahan, nebangi pohon-pohon di hutan, apalagi nebangnya pakai senso dan dilakukan oleh manusia-manusia yang diperintahkan untuk mengelola hutan.

Dan dengan tanaman jarak pula, ketika kecil nenekku sering menjadikannya sarana untuk pengobatan. Seperti ketika aku sakit perut (kembung), dengan daun jarak yang diolesi minyak kelapa lalu dipanaskan dengan lampu teplok, setelah itu ditempelkan ke bagian perutku, beberapa saat kemudian sakitku mulai mereda. Jadi ketika aku sakit seperti itu jarang di bawa ke dokter atau mantri kesehatan untuk diobati. Namun saat ini hal-hal seperti itu jarang atau bahkan tak pernah kutemui lagi di kampungku. Sakit sedikit orang-orang langsung “silahturahmi” ke dokter dan yang pasti biayanya cukup mahal.

Fungsi lain hutanku


Dengan adanya hutan yang bagus, sudah pasti udara di kampungku terasa sangat sejuk. Ya, hutanku, seperti kata pak guru IPA-ku di sekolah dasar dulu, merupakan bagian dari paru-paru dunia yang mampu meredam sinar matahari yang menyorot tajam dan menyengat ke bumi dan dengan proses fotosintesis mampu mengubah gas karbondioksida (CO2) menjadi oksigen (O2) serta mampu menyaring udara yang kotor dan berdebu.

Kata guru-guru IPA-ku, di dalam hutan tanaman melakukan proses fotosintesis dengan bantuan sinar matahari. Ketika proses fotosintesis, terjadi proses penyerapan gas CO2 dari atmosfer oleh tanaman, menyimpannya dan melepaskan gas O2 kembali ke atmosfer. Hutan dengan tanaman yang sedang tumbuh atau hutan yang masih muda berfungsi sangat optimal sebagai penyerap gas CO2 karena vegetasinya secara cepat menyerap banyak gas CO2 pada proses fotosintesis tersebut untuk pertumbuhannya. Secara alamiah, atau tanpa aktivitas atau campur tangan manusia, proses terserap dan terlepasnya gas CO2 ke atmosfer berjalan secara berimbang. Artinya, jumlah gas CO2 di atmosfer relatif tetap dari waktu ke waktu.

Adanya campur tangan manusia semisal penebangan dan pembakaran hutan, akan menjadikan CO2 yang terlepas ke atmosfer lebih besar daripada yang mampu diserap dan disimpan hutan, apalagi jika memperhitungkan jumlah pemakaian bahan bakar fosil yang semakin hari semakin meningkat. Konversi hutan menjadi daerah pertanian juga berperan sangat besar dalam proses kembalinya gas karbon dioksida ke atmosfer.

Hutanku juga mampu menjadi pengatur air. Menjadi kawasan tangkapan air hujan. Menjadi hydrologis system. Ketika hujan deras, air hujan yang tumpah tidak serta merta dapat mengali ke sungai. Air hujan yang tumpah dengan kecepatan yang tinggi dan hantaman yang keras diredam oleh dedaunan dari pohon-pohon besar dan kalaupun lolos masih ada tanaman-tanaman perdu dan rerumputan yang siap meredamnya. Dengan demikian air hujan yang tumpah tak sampai mencedarai permukaan tanah yang penuh jasad renik dan humus yang berfungsi sebagai material yang diperlukan tetumbuhan. Air hujan akan mengalir pelan-pelan menyusuri dedahunan, dahan-dahan dan perakaran pepohonan sebelum akhirnya jatuh ke tanah dengan pelan-pelan. Sebagian air mengalir di permukaan tanah dan sebagian lainnya menyusup ke dalam tanah untuk sementara menjadi air tanah sebagai cadangan di musim kemarau nanti.

Saat itu belum pernah aku mendengar banjir yang menerjang kampungku atau sekadar aliran air keruh yang mengalir di sungai-sungai membawa endapan lumpur dan bunga-bunga tanah atau humus. Air mengalir relatif konstan, bila hujan tak pernah terjadi luapan, begitu juga ketika musim kemarau volume air sungai tidak banyak berkurang. Sementara itu mata air di sana-sini masih bermunculan, menandakan bahwa hutanku masih utuh, belum terjahil oleh tangan-tangan manusia jahiliyah yang jahil.

Masyarakat dikampungku pada umumnya telah mewarisi budaya yang –kata orang-orang jaman sekarang— bersifat holistic. Mereka masih menyelaraskan kehidupannya dengan sumberdaya alam yang ada termasuk seumberdaya hutan dalam simbiosis yang saling mendukung yang akan memberikan hasil yang lebih efektif bagi kelestarian sumberdaya hutan.

Hutanku, kini


Namun beberapa waktu kemudian keadaan telah berubah. Keserakahan, ketamakan yang luar biasa terjadi di depan mataku sendiri. Orang-orang tidak bertanggung jawab menguasai jagat rimba dengan hukum rimba tentunya dan menghalalkan segala macam cara. Hutanku dibabat, digunduli, hewan-hewan dibinasakan, diburu dan dipelihara dalam penjara. Reformasi yang mengedepankan kebebasan benar-benar kebablasan. Hutanku yang lebat dan rimbun benar-benar ikut ‘direformasi’ menjadi kawasan yang tandus, kering kerontang dan gersang. Setiap detik, setiap menit, setiap detak jantung dan denyut nadiku, bertumbangan pepohonan dalam hutanku, menggelepar terkapar. Pernah suatu malam, tengah malam tepatnya, di tahun 1998-1999 deru mesin geraji ku dengar meraung-raung dari tepian hutan kampungku yang dilakukan entah oleh siapa. Yang jelas bukan orang kampungku karena orang di kampungku tak ada yang punya gergaji mesin. Dan orang-orang kampungku pun tak berani keluar rumah ketika itu karena kondisi pada tahun-tahun itu tak beda jauh dengan jaman PKI masih merajalela di pertengahan tahun 1960-an. Dan yang jelas paginya, yang kulihat pohon-pohon di tepi hutan yang terdekat dengan jalan kecamatan habis di babati.

Dan saat inipun sepertinya deru-deru mesin gergaji yang super canggih masih saja mengalunkan nada-nada kebinasaan, kepunahan, juga ketakutan para satwa. Para satwa berlari, menjerit, mereka ketakutan. Namun kemana mereka akan pergi? Andai saja aku mengerti bahasa para satwa, mungkin aku akan menjadi sahabat tempat curhatnya. Tapi aku yakin mereka sangat merindukan ketenangan dan kerimbunan hutan-hutan itu.

Sekarang aku hanya bisa menyaksikan tanah-tanah tandus dan gersang. Padahal itu dahulu adalah surga bagi para satwa. Namun kini, surga itu telah berubah enjadi ladang-ladang singkong yang rakus unsur hara, juga ilalang yang tumbuh tak karuan. Daun-daun ilalang yang tajam seolah menyayat-nyayat jiwaku yang juga semakin kering. Ujung-ujung runcingnya mencocok-cocok mataku, bulu-bulu kelopak bunganya berterbangan membuatku semakin alergi dan sesak nafas. Tak ada air, tak ada sungai mengalir di sana. Pohon-pohon rindang di sana, telah lama menjadi tonggak, diam, dan tak akan pernah berbisik lagi.

Hutanku rusak, erosipun terjadi sepanjang musim penghujan yang berakibat pada hilangnya lapisan paling atas tanah yang subur yang juga menyebabkan kemampuan tanah untuk menyerap air dan menahan laju air turun drastis. Lapisan-lapisan tanah yang subur yang tergelontor air hujan semuanya terendap dalam sungai, waduk danau aliran-aliran irigasi sehingga terjadi pendangkalan-pendangkalan, akibatnya setiap turun hujan air tumpah ruah kemana-mana, menerjang apa saja, membunuh siapa saja.

Di beberapa belahan kampung lain yang mempunyai waduk ataupun danau, erosi ini dapat berakibat pada masa atau umur waduk semakin pendek. Dampak yang ditimbulkanpun lebih luas. Bukan saja waduk mengalami pendangkalan akibat lumpur, juga hanya sedikit kemampuannya menyimpan air dan tentu saja juga cepat mengering. Akibat berikutnya bukan saja masyarakat akan krisis air minum dan air untuk keperluan sehari-hari lainnya tetapi usaha pertanian pun ikut merana. Tanah-tanah persawahan yang biasanya basah kini merekah bikin resah, ladang-ladang pun meradang.

Berita-berita di media cetak ataupun televisi juga ramai memberitakan wilayah Kalimantan yang sebenarnya kawasan kaya ini. Kapal-kapal banyak yang terdampar akibat sungai-sungai yang dilalui kapal mengalami pendangkalan yang awalnya hutan-hutan mereka dibabati membabi buta.

Beberapa hari yang lalu dikawasan ini kekurangan BBM akibat kapal yang mengangkut BBM tak bisa berlabuh dan terdampar di tengah sungai. Masyarakat pun kelabakan dan antri berkepanjangan untuk mendapatkan BBM.

Aksi penjarahan hutan Kalimantan konon katanya terjadi secara sporadis yang dilakukan oleh pemegang HPH dan HTI yang secara administratif merasa legal melakukan perusakan dan pengeksploitasian.

Saat ini pun kekeringan sering terjadi, kita menghadapi masakah defisit air yang semakin luas. Para ahli mengukur defisit pada penggunaan air di sektor pertanian, karena sektor ini merupakan penderita terakhir dari bencana kekeringan. Kemerosotan hasil—bahkan kegagalan panen— yang menyebabkan melesetnya angka ramalan produksi pangan khususnya beras adalah ukuran yang nyata dari pengaruh kekeringan. Itulah sebabnya bencana kekeringan baru banyak mendapat sorotan dan pemberitaan ketika semakin luas lahan pertanian tanaman pangan “menjerit” kekeringan. Kini air menjadi dambaan. Datangnya hujan menjadi harapan. Penderitaan petani dan jerit kekeringan semakin kuat. Fenomena iklim global el nino kembali menjadi kambing hitam sementara mereka-mereka perusak hutan, baik masyarakat ataupun kalangan pejabat tetap saja menjadi kambing congek.

Begitu juga banjir silih berganti. Di banyak daerah lain banjir hampir menengelamkan kota-kota di dataran rendah, sementara di dataran tinggi seringkali terjadi banjir bandang dengan membawa jutaan kubik lumpur dan bongkahan batu serta potongan-potongan kayu.

Aku tak tahu dimanakah hati para perusak hutan itu? Atau apa mereka sudah tak punya hati? Akibat ulah merekalah hujan yang hanya sebentar saja sudah mengirim banjir, kemarau sedikit pun langsung kekeringan, membuat tanaman-tanaman Pak Tani kering merana. Dan yang lebih aneh lagi perusakan hutan juga dilakukan secara resmi melalui sistem oleh oknum-oknum berseragam, orang bermodal dan tentu saja oknum-oknum keamanan untuk mengamankan jalannya perusakan!

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home